Di dalam pribadi seorang Hendra Hadiprana, ia sangat idealis, menguasai arsitektur, interior, landscape, artwork, lighting, ahli tata meja, art gallery, toko perhiasan, serta desain grafis. Pada 1958, Hendra Hadiprana memulai langkah untuk menghiasi persada Indonesia dengan desain interior dan arsitekturnya, Kemudian 1975, Sindhu Hadiprana beserta mendiang Wedari bergabung di barisan ini.

Hingga tahun 2007, Mira Hadiprana mengambil tongkat estafet berikut menjadi President Director Hadiprana. Sejak 1958 sampai saat ini, Hadiprana tetap menjadi sebuah konsultan terkemuka, terpandang di dalam bidang arsitektur, interior, lansekap, tata cahaya, artwork bahkan sampai kepada art gallery, dan Lifestyle Shop bernama H-Accent. 







CASA Indonesia dan arsitek Alwi Sjaaf mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif tentang perjalanan karier Hendra Hadiprana. Selain menjadi seorang arsitek, kini Hendra yang kerap dipanggil 'Oom Henk' oleh Alwi Sjaaf juga dikenal sebagai kolektor lukisan dan barang seni.


Apa rahasia di balik kesuksesan Anda?

"Harus kenal dengan banyak orang dan mesti pandai bicara. And then you have to try to make friends with them. Jangan sekadar kenal saja. Selain itu God is there. God is kind to me. Kenal orang banyak. Contohnya, Hadiprana dapat proyek Hotel Inter-Continental Bali. Untuk membayangkan proyek itu dikasih ke kami, tapi kalau bukan karena Tuhan, juga tidak mungkin kami dapat."




"Hotel Hilton Jakarta, saya kerjakan dua kamar di atas, yang bekas buat dansa-dansa itu saya rombak, dua kamar dijadikan satu, namanya Oriental. Tapi pekerjaan itu hebat. Dua kamar yang satu kamar itu buat duduk-duduk, tapi satu kamar lagi bisa buat dansa. Pada siang hari bisa dipakai untuk conference. Hasilnya sangat bagus. Saya juga bilang senang sekali. Heran, gambarnya sudah entah ke mana."


Ada proyek yang paling Anda kagumi?

"The St. Regis Bali di Nusa Dua. Tempat dan orangnya menyatu benar. It’s so pleasant. Kalau je (kamu, bahasa Belanda-red) datang masuk situ, arsitekturnya mengagumkan. Di luar pakai klentong-klentong besar yang tinggi sekali. Turun mobil kita disambut dengan ramah. Itu sesuatu yang tidak ada di tempat lain. Semua hal dan detail dipirkan secara matang, seperti nama salah satu restoran di dalamnya, Boneka Restaurant."


Sangat berbudaya. Pendidikan di sekolah kita sekarang tidak banyak tentang kebudayaan, menurut saya salah besar. Bagaimana pendapat Anda?

"It's ’s true, waktu saya pulang, setelah 7 tahun di Belanda, saya seperti orang sana. Lalu saya pergi ke paman yang jadi kolonel di Angkatan Udara, anaknya 4 laki-laki. Saya bilang sama dia, “Oom, saya ini kayak orang Belanda ya? Cara bicara dan pikiran saya semuanya seperti orang Belanda. Bagaiana ya kalau mau jadi orang Indonesia?” “Gampang," katanya.






"Dia panggil anaknya untuk ambil buku Mahabharata, untuk saya pinjam. Minggu depannya saya bawa lagi, yang sudah saya baca habis. "You mengerti nggak semua itu? Bagaimana orang Indonesia, semua ada di situ. Di Kitab Mahabharata, orang Indonesia ada semuanya. So you know what to do sekarang".


Boleh dikatakan bahwa Mahabharata itu mengubah hidup Anda? Mahabharata wajib dibaca oleh setiap orang Indonesia, seperti baca Odyssey dari Homer untuk orang Eropa?

"Lebih wise sedikit deh. Ya, jadi orang Indonesia. Saya tidak mau jadi orang Belanda lagi. Banyak orang Eropa yang tidak tahu siapa Athena, Demeter. Juga tidak tahu itu bahwa kuda di sekolah saya dulu namanya Academie Minerva. Minerva itu sama dengan Athena."




Boleh minta nasehat untuk kami yang lebih muda?

"Bagaimana ya? Saya takut salah ngomongnya. Kita sendiri mesti cari tau tentang diri sendiri. Harus membedakan diri sedikit ya. Kita mesti pintar melakukan presentasi. Kasih lihat gambaran dulu. Masa sih kita mesti sama terus? Harus ada identitas kita. Masalahnya cuma soal waktu. Kita bekerja dikejar sama tenggat waktu yang membuat lebih sulit. Saya juga pesan sama para karyawan kantor, bahwa mereka harus jadi diri mereka sendiri."


Foto: dok. CASA Indonesia