Setiap menyinggung seni, sisi lain manusia begitu vokal terpapar dalam sebuah karya maupun interpretasinya. Tidak ada salah dan benar dalam seni, pun mengenai teknik-teknik bagaimana seni itu dilakukan. Semua seni adalah karsa manusia yang unik, kadang abstrak, tak jarang begitu ‘gelap’. “Tidak ada pakem, siluet, atau gambar dasar. Semuanya mengalir begitu saja”. Kalimat itu amat menggelitik CASA Indonesia saat berbincang santai bersama Ika Vantiani sore itu.

Hempasan hujan angin dan kilau halilintar seperti latar teater persembahan alam ketika seniman yang justru tidak memiliki dasar pendidikan seni tersebut mulai menarik CASA Indonesia pada awal perjalanannya menggeluti seni kolase satu dekade lalu. “Kolase ini awalnya timbul dari kecintaan saya pada majalah. Pemuatan konten serta dekorasi grafis di tiap halamannya itu amat menginspirasi saya.”, sambut Ika Vantiani mengawali obrolan.






Seni kolase bisa dibilang sebagai salah satu cabang seni yang tidak muda lagi. Sebut saja para maestro seperti Pablo Picasso atau Henri Matisse yang mempopulerkan sebagian karya seninya dalam bentuk kolase. Ekspresi seni dengan menempel bermacam material di atas satu media dianggap sebagai salah satu jalur untuk mengungkapkan suara seni bagi seniman-seniman legendaris tersebut.

Bagi Ika Vantiani, jalinan antara dirinya dan kolase bermula dari tempel-menempel majalah bekas yang ia gemari sejak awal tahun 2000, lantas ia mencoba wawasan baru mengenai seni kolase tersebut lewat keterlibatannya dengan komunitas seniman internasional. Pembelajarannya pada ragam seni kolase yang lebih luas itu ia dapatkan dari penelusuran antar blog para seniman kolase lainnya. Hingga akhirnya di tahun 2008, Ika Vantiani berani untuk menekuni seni kolase dengan medium kertas bekas yang ada di sekelilingnya.

“Aku begitu percaya diri dengan apa yang kulakukan waktu itu, hingga akhirnya aku berkesempatan memasarkan karyaku di Etsy, sebuah situs kuratorial seni yang berbasis di Irlandia.”, lanjut Ika penuh semangat. Wanita yang mengenyam pendidikan di ranah ilmu Public Relations ini justru mendapat apresiasi yang tidak pernah ia bayangkan sepenuhnya dari karya-karya yang ia publikasi di situs Etsy.




“Dapat berbincang dengan orang maupun komunitas yang bisa mengerti karya kita itu rasanya luar biasa. Sudut pandang mereka yang begitu terbuka menjadi spirit tersendiri buat diriku untuk meyakini seni kolase ini.”, tutur Ika yang mengaku dapat menghabiskan waktu seharian hanya untuk menggunting kertas-kertas yang ia temui menjadi potongan kecil. Menurutnya, kolase itu bukan hanya sekadar memotong dan menempel. Kolase adalah visualisasi baru atas suatu objek yang telah ada sebelumnya.

Pemahamannya atas seni kolase itulah yang juga ia tuangkan pada sampul majalah CASA Indonesia edisi spesial DEKADE ini. “Aku menarik benang merah satu dekade perjalanan CASA Indonesia melalui sampul-sampul yang sudah dibuat selama sepuluh tahun ke belakang. Sembari memotong, aku bisa menyerap makna perjalanan majalah CASA Indonesia selama satu dekade, merasakan konsistensinya serta kemasan dan tren yang ada di dalamnya.”, Ika menjelaskan.



Sejak awal bertemu dengan tim CASA Indonesia mengenai rencana pembuatan sampul majalah CASA Indonesia tersebut, Ika Vantiani memang mengungkapkan keinginannya menggunakan material yang mengandung elemen-elemen CASA Indonesia itu sendiri. “Usia satu dekade bagi seseorang itu adalah usia haus pengetahuan dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Dengan menggabungkan objek-objek CASA Indonesia sejak usia pertama, aku membayangkan napak tilas dari awal hingga seperti saat ini.”, sambung Ika sambil mengumpulkan kolase-kolase mungilnya.

Tak ingin menyita waktu agar Ika dapat melanjutkan karyanya, CASA Indonesia menyudahi dengan pertanyaan mengenai konsistensinya dalam seni kolase. “Seni kolase ini layak dicoba bagi siapapun yang ingin melatih ketekunan dan kesabaran. Setiap potong kolase, simetris maupun tidak, itu adalah bagian karya. Seiring waktu, dalam prosesnya, seseorang bisa berbicara dengan kalbunya tentang apa yang ingin ia suarakan melalui kolase itu…”, jawabnya tersenyum simpul. Impressive!