Keinginan dan kepribadian konsumen tak jarang menjadi tantangan utama bagi arsitek maupun desainer interior dalam suatu proyek. Mimpi, karakter, dan minat sang konsumen ayal mengantarkan para kreator mewujudkannya dalam gubahan ruangan kelak.







Oleh sebab itu, klien yang mengetahui keinginan dan karakter dirinya sendiri seringkali menjadi sebuah keberuntungan bagi para arsitek dan desainer interior dalam berkarya.

Ditambah akan pengetahuan dan selera visual yang kaya dari sang pemilik, rumah di bilangan Cipinang, Jakarta Timur ini, kian mampu menampilkan identitas penghuninya dalam estetika.


Baca juga. Segar! Rumah ini Jarang Pakai AC & Terasa Sangat Sejuk


Konsep rumah nyaris secara keseluruhan lahir dari harapan sang pemilik, seorang ibu paruh baya yang memiliki dua orang anak lakilaki dewasa sekaligus berprofesi sebagai dosen. Keinginannya adalah memiliki rumah yang dapat menjadi tempat berkumpul para anggota keluarga meski anak-anaknya telah memiliki tempat tinggal masing-masing.




Dari segi arsitektural, optimalisasi kualitas komunikasi ini ditangkap oleh arsitek dan diterjemahkan ke dalam kualitas ruang hunian. Sebagai proyek renovasi, hunian seluas 242 meter persegi ini telah memiliki struktur setengah jadi yang masih dalam kondisi baik.

Sang arsitek lantas menggagaskan untuk menambah sebuah boks paviliun yang seakan berperan sebagai ruang singgah yang masuk menembus volume bangunan eksisting. Massa bangunan eksisting dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan ruang pribadi pemilik hunian yang meliputi kamar tidur utama, kamar mandi utama, dan ruang belajar.




Sementara itu, boks paviliun, yang masuk menembus boks bangunan eksisting, diangkat dan dimanfaatkan sebagai area beristirahat. Pada massa inilah, sesuai dengan namanya, dua kamar tidur ditempatkan untuk kedua anak sang pemilik apabila menginap.


Baca juga, Desain Apartment Kekinian yang Buat WFH Jadi Nyaman


Selain itu, keberadaan boks sebagai massa tambahan ini diperkuat dengan membungkusnya menggunakan panel GRC (Glassfibre Reinforced Cement) motif kayu untuk menampilkannya sebagai sebuah volume yang utuh. Atap bangunan eksisting yang bersinggungan kemudian dipisahkan sebagian dan diganti dengan material kaca untuk mempertegas kesan lepas.




Pertemuan kedua volume ini memunculkan sebuah void yang menjadi potensi ruang interaksi. Disinilah kegemaran para penghuni rumah dalam memasak, makan, dan berkumpul diakomodasi.



Sang anak yang sangat gemar memasak, menginginkan adanya dapur besar yang menjadi jantung rumah. Ruang keluarga didesain berbaur langsung dengan ruang makan dan sebuah reflecting pool di pekarangan belakang.




Esensi kenyamanan pribadi yang ingin dicita-citakan para penghuni juga menjadikan taman dan kolam yang cukup besar ini menjadi area outdoor di dalam rumah bukannya di area muka rumah seperti kebanyakan rumah yang tak jarang menjadi tontonan orang-orang.


Baca juga, Rumah Kembar untuk Kakak Beradik, Serupa Tapi Tak Sama!


Sirkulasi cahaya dan udara yang maksimal melalui metode ini menjadi solusi keinginan penghuni rumah yang menginginkan naungan tersebut tidak ketergantungan pada mesin pendingin ruangan. Kesan bias antara ruang dalam dan luar seperti demikian ditujukan untuk memberikan sebuah pengalaman ruang dalam yang intim dan lega.




Pengalaman ruang seperti ini juga diaplikasikan pada area transisi yaitu tangga menuju boks paviliun. Keberadaan tangga seolah ditarik dan lepas dari boks serta diberi penutup atap kaca transparan untuk memperkuat kesan lebur antara ruang dalam dan luar perjalanan memasuki boks.


Baca juga, Mari Mengeksplorasi Komposisi Dalam Sebuah Hunian!


Pembagian zona yang sistematis dan koheren turut terfasilitasi secara desain interiornya. Desain interior rumah yang berdiri di atas lahan seluas 215 meter persegi ini diterjemahkan sebagai organisasi ruang yang efisien.

Diana Nazir menuturkan bahwa rumah ini dirancang agar menghasilkan interaksi yang baik antara penghuni baik dari sirkulasi horizontal maupun vertikal. Keseimbangan menjadi kunci utama jiwa dalam naungan ini.




Keseimbangan antara ruang positif dan negatif yang pas, antara udara dengan air, antara unsur-unsur natural dan aksen yang bold, hingga antara kecanggihan teknologi dan segala reka buatan tangan. Peleburan dari seluruh kekayaan unsur inilah yang membawa desain pada hasil akhir yang menyenangkan.


Baca juga, Rumah ini Dahulunya Merupakan Bangunan Sekolah!


Sentuhan karakter pribadi adalah benang merah yang membalut hunian ini. Keunikan ini harus tetap menarik setelah dibungkus dan diterjemahkan dalam penyelesaian desain yang baik. Kumpulan koleksi barang-barang pribadi lahir dari kecintaan bermusik, membaca, dan keliling dunia.

Banyaknya foto-foto dokumentasi perjalanan, hingga deretan karya-karya seni banyak ditempatkan pada kamar, area tangga, dan koridor atas menuju kamar, yang lantas menjadi bagian menarik dari keseluruhan desain interiornya. Hunian yang tak satupun ruangan di dalamnya tidak terpakai dan tanpa ventilasi maupun jendela ini adalah definisi fungsional, high-craft, dan stylish.


Teks oleh Sarah Hutapea
Fotografi oleh Fernando Gomulya
Arsitektur oleh Wahana Architects (Rudy Kelana, Gerard Tambunan, Paula Silalahi)