Apa makna Hari Kartini sebenarnya? Hanya sekadar perayaan baju daerah dengan kebaya dan konde sajakah?





Dalam rangka perayaan Hari Kartini, Indonesian Luxury menggelar sebuah pameran seni di showroom Ambiente, Senopati yang menggandeng enam seniman wanita. Pameran bernama Tetap Terang / Always Bright ini dikuratori oleh ISA Art Advisory dan berkolaborasi dengan Can’s Gallery.



(Ki-Ka) Nila Susilo, Rachel Nathani, Arahmaiani, Ines Katamso, Natasha Lubis, Deborah Iskandar, Lina Koswara, Kezia Karin, Didiet Maulana


Keenam seniman berbakat ini antara lain Sinta Tantra, Arahmaiani, Ines Katamso, Sally Smart, Natasha Lubis, dan Natisa Jones. Setiap lukisan menempati empat lantai showroom Ambiente dari 12 April hingga 12 Mei 2018. Lina Koswara, Didiet Maulana, Kezia Karin, Nila Susilo, dan Rachel Nathani pun hadir sebagai host di acara ini.


Sally Smart


Nama pameran ini terinspirasi dari buku kumpulan surat yang ditulis oleh Raden Adjeng Kartini, berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Kumpulan surat tersebut disatukan menjadi buku oleh J.H. Abendanon setelah RA Kartini wafat. Di Indonesia, nama RA Kartini sangat dipandang sebagai pahlawan nasional, maka tanggal 21 April dijadikan sebagai Hari Kartini.



Opening speech Deborah Iskandar dari ISA Art Advisory saat pembukaan pameran Tetap Terang


Perayaan Hari Kartini sebetulnya lebih dari sekadar perayaan baju daerah (kebaya dan konde), namun seharusnya mengingatkan kembali tentang perjuangan dan kekuatan dari seorang wanita, baik secara pikiran, kontribusi, dan tindakan. Ingin memajukan kaum wanita serta kebebasan bersuara adalah perjuangan RA Kartini yang perlu dipupuk dan dikembangkan.



Arahmaiani


Baca juga, Interior Hotel Ini Dipenuhi Karya Seni Layaknya Museum


Pameran Tetap Terang ingin menunjukkan tentang keunikan dari pola pikir wanita yang diwakili oleh keenam seniman ini. Dan yang terpenting adalah ingin mengingatkan bahwa wanita punya suara dan bisa berkontribusi yang besar. Bisa dikatakan, ini adalah sebuah perayaan Hari Kartini yang berkelas serta memiliki esensi yang bermakna dalam.



Natisa Jones




Setiap area di showroom menampilkan suasana yang berbeda karena keenam seniman ini memiliki latar belakang yang beragam, baik dari generasi, kebangsaan, dan pengalaman.

Arahmaiani merupakan seniman senior asal Bandung yang sudah melebarkan sayap hingga ke Tibet, Jerman, dan India.

Sinta Tantra adalah seniman asal Bali yang bersekolah dan sukses berkarir di Inggris, namun tak melupakan Tanah Air sebagai inspirasinya berkarya.

Ines Katamso yang menyebut dirinya “anak campur” adalah seniman berdarah Indonesia-Prancis yang menggabungkan kedua budaya itu dalam kolerasi yang manis.



Ines Katamso


Natisa Jones sebagai seniman asal Jakarta, ia banyak menghabiskan waktunya di Bali dan Amsterdam dan mengikuti banyak pameran hingga ke Berlin dan Melbourne.  


Sally Smart merupakan seniman asal Australia yang sangat apresiasi Indonesia hingga kini memiliki studio seni di Yogyakarta. 


Natasha Lubis, seniman muda asal Jakarta dan lulusan Goldsmith University, Inggris yang telah berpartisipasi di pameran di London, Inggris dan Melbourne, Austalia.



Natasha Lubis


Lalu mengapa bukan berpameran di galeri seni, namun di showroom furnitur? Ini melihat dari peran lukisan dalam sebuah interior setting. Dari dulu, lukisan memang sudah dijadikan harta benda atau koleksi yang berharga. Namun, sering kali fungsinya terhenti sebagai pajangan di dinding.



Sinta Tantra


Sejalannya waktu, lukisan semakin diminati sebagai aksesori interior. Ambiente adalah sebuah high premium furniture showroom yang berlokasi di Senopati yang membawa brand-brand furnitur dan kitchen ternama. Dengan koleksi furnitur yang mewah, beberapa lukisan dari keenam seniman ini semakin mempercantik dan saling melengkapi. Sehingga pameran Tetap Terang menjadi satu paket yang indah baik untuk industri interior atau pun seni.


Baca juga, Seniman Indonesia Membuat Karya Seni Seluas 3.300 m2


Foto: Dok. CASA Indonesia