Bersanding dengan restoran dan kafe vintage dari kawasan Lim Liak, kawasan bersejarah yang kini menjadi destinasi wisata. Tinggal sepasang kekasih di sebuah apartemen lantai dasar yang dikelola oleh HDB (Housing Development Board) Singapura.

Didorong oleh rasa menghormati sejarah, mereka meminta Monocot, studio arsitektur asal Singapura untuk meredesain dan mengembalikan marwah hunian tersebut ke bentuk semula.




“Mereka datang kepada kami karena tahu kami memiliki kesukaan terhadap konservasi dan karya interior berkelanjutan,” ujar Mikael Teh, principal dari Monocot melalui wawancara virtual bersama CASA Indonesia.




Dia pun menawarkan kepada kliennya konsep interior yang menghormati arsitektur apartemen, juga kawasan bersejarah dari Tiong Bahru itu sendiri.



Hunian dengan satu kamar tidur ini memang menyimpan banyak sejarah. Mikael memutuskan untuk mempertahankan lantai mosaik yang terdapat di dapur, semua jendela krepyak kayu yang menghadap jalanan, dan pintu utama.




Di area belajar yang langsung terhubung dengan kamar tidur utama, hadir pula satu bagian dinding yang menampilkan bata merah ekspos. Bata tersebut memang merupakan bagian asli dari hunian.

Untuk tahu review lengkapnya dan wawancara eksklusif dengan para desainer dan arsitek, temukan di CASA Indonesia Printed Edition 2021. Buku ini bisa Anda beli secara online melalui WA Business MRA Media dan toko buku terdekat.


Teks oleh: Muhammad Fauzan Aziz
Sumber foto: Monocot x Studio Periphery