Rasa bosan merupakan ekspresi yang dominan saat masa pandemi Covid-19 yang mengimbau agar setiap orang untuk beraktivitas di rumah saja. Namun, jika ditelisik, banyak juga manfaat yang datang menghampiri di kondisi yang penuh waspada ini. Salah satu manfaat yang bisa didapat adalah menambah ilmu secara virtual.


Memfasilitasi kebutuhan dalam berbagi ilmu dan informasi terkait dunia desain, CASA Indonesia bersama MRA Academy dan MRA Live Learning mempersembahkan CASA Academy. Didukung penuh oleh Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) dan Istituto Marangoni, CASA Academy hadir sebagai merupakan sebuah platform seminar virtual atau webinar sebagai sarana menambah informasi secara eksklusif di tengah masa pandemi Covid-19. 




Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

ki-ka: Giulio Cappellini dan Christopher Tanihaha / dok. Christopher Tanihaha


Untuk edisi pertama, mengusung tema Life Changing in Design, webinar ini mengundang Giulio Cappelini dan Christopher Tanihaha sebagai keynote speaker CASA Academy. Acara ini juga melibatkan Rina Renville selaku ketua HDII Jakarta dan Lisa Malonda, perwakilan Istituto Marangoni sebagai moderator pada webinar ini. 


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

ki-ka: Putra Tjokro, Dino Fabriant, Lea Aziz, Lisa Malonda, Rina Renville, dan Thomas A. Jonathan / dok. Lisa Malonda


Giulio Cappellini merupakan seorang arsitek dan perancang interior ternama asal Italia. Giulio saat ini masih aktif menjabat sebagai art director untuk perusahaan keluarganya, Cappellini serta dirinya pun merupakan brand ambassador untuk Istituto Marangoni.


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Giulio Cappellini


Perjalanan karier Giulio Cappellini sebagai seorang praktisi desain tidak hanya hadir melalui karya-karyanya yang dapat ditemukan dalam sejumlah museum seni kontemporer penting dunia sebagai koleksi permanen. Dirinya pun memiliki jasa besar dalam memaksimalkan potensi talenta desainer non Italia, seperti Tom Dixon, Ora Ito, Marc Newson, Jasper Morrison, Erwan dan Ronan Bourollec di tahun 1980-an hingga awal 2000-an.


Baca juga: Bisakah Kembali Bersosialisasi Seperti ini?


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Giulio Cappellini


Christopher Tanihaha adalah seorang desainer interior asal Indonesia yang merupakan alumni dari Istituto Marangoni Milano, Italia. Menjadi salah satu lulusan terbaik, dirinya mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik kerja magang selama enam bulan di Cappellini. Berada di bawah bimbingan sang idola, Giulio Cappellini. 


Pria yang akrab disapa Chris ini berhasil mendapatkan pengalaman untuk merancang proyek-proyek komersial besar, di antaranya adalah Lula Jade Hotel di Hong Kong yang akan dibuka pada 2021 mendatang, serta proyek Inner Net yang baginya tidak terlupakan berkat sentuhan desain yang menggabungkan aspek hubungan dari hati, pikiran serta panca indera selama magang di Cappellini. 


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Christopher Tanihaha




Sesuai dengan tema, topik yang dibahas pada CASA Academy kali ini berfokus pada perubahaan yang terjadi serta dirasakan oleh desainer di masa pandemi ini. Giulio memulai pembicaraan dengan menceritakan situasi di Italia dua hingga tiga bulan ke belakang. Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, sebagai seorang desainer, dirinya harus bisa beradaptasi dan menghadirkan cara pandang serta pendekatan baru dalam merancang sebuah karya. 


Baca juga: 7 Arsitek Lokal dengan Followers Instagram Terbanyak


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Giulio Cappellini


Pada webinar kali ini, Giulio pun menghadirkan beberapa gambar desain yang mencoba untuk mengaplikasikan konsep “The New Normal” dipengaruhi dari kegiatan social / physical distancing. Pada presentasi tersebut diperlihatkan bahwa restoran nantinya akan memberikan sekat transparan guna meminimalisasi penyebaran virus namun tetap dapat menghabiskan makan malam bersama orang tersayang di tempat yang spesial. 


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Giulio Cappellini


Meskipun konsep desain ini hadir untuk mengakomodasi kebutuhan publik secara sosial, masih ada kendala yang perlu dihadapi untuk merealisasikannya. Menurut Giulio, kendala tersebut akan hadir pada aspek manufaktur yang belum secara maksimal beradaptasi. Selain itu pemilihan material yang layak guna dan sustainable pun akan menjadi hal yang perlu diperhitungkan. 


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Giulio Cappellini


Chris Tanihaha juga dalam presentasinya menceritakan tentang proyeknya yang harus tertunda untuk gelaran Milan Design Week di tahun ini. Tergabung dengan Prisma Project, Chris merancang sebuah globe dengan tekstur batik bermotif hourglass atau jam pasir untuk pameran tersebut. Chris pun menjabarkan tentang perjalanan kariernya yang melesat saat dan seusai dirinya menjalankan studi di Istituto Marangoni Milano. 


Baca juga: Tips Membuat Rumah yang Nyaman di Pinggir Kota


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Christopher Tanihaha


Berkat pendidikan, determinasi diri, serta kecintaannya terhadap desain interior, Chris pun mendapatkan kessempatan untuk banyak terlibat dalam proyek di bawah naungan brand-brand ternama, seperti Valentino dan B&B Italia. Untuk langkah selanjutnya, owner dari studio desain bernama Design By Tani ini sedang merencanakan proyek besar untuk Kawasan Ekonomi Khusus di Singosari, Jawa Timur. 


Pendapat Cappellini tentang Kondisi Desain di Dunia

dok. Christopher Tanihaha


Untuk proyek dengan luas lahan 120 hektar ini, Chris akan merancang konektivitas digital guna meningkatkan potensi serta sarana dan prasarana pariwisata di Indonesia. Di proyeknya kali ini, Chris pun mengajak Giulio Cappellini untuk berkolaborasi di dalam rancangannya yang baru akan dimulai sesi ground breaking-nya pada bulan Desember 2020 mendatang.