Menyambangi sejenak tetangga terdekat Pulau Dewata, CASA Indonesia larut dalam kisah kejayaan Nusantara yang terekam dalam ragam artefak di Pulau Lombok. Ya, pulau yang berbatasan dengan Pulau Bali dan Sumbawa ini juga menyimpan sejuta pesona. Bahkan, pesona Pulau Lombok tercatat dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca berabad silam. Kitab yang diwariskan Kerajaan Majapahit itu menyebut “Lombok Sasak Mirah Adi” yang bermakna “Orang-orang Lombok (suku Sasak) memiliki hati yang lurus untuk mencapai kejayaan”. Itulah asal-usul nama Lombok yang sampai kini dikenal sebagai Pulau Lombok hingga kancah internasional.





Pelesir CASA Indonesia kali ini ke Pulau Lombok tertuju pada satu mutiara di pesisir Pantai Sire, yaitu Hotel Tugu Lombok. Bertandang ke hotel ini seakan kembali pada rengkuhan nenek moyang. Hotel Tugu di Lombok tidak hanya sebuah tempat untuk melepas lelah dan mengusir kepenatan, melainkan mencari jati diri sebagai bangsa dengan sejuta identitas Nusantara. Memasuki area hotel, pikiran layaknya bernapak tilas pada masa Kerajaan Majapahit dengan adaptasi bentuk-bentuk bangunan candi Hindu serta berbagai macam benda bersejarah yang tersimpan di dalamnya.

Tugu yang berarti monumen memang menjawab sebuah kebutuhan wisata yang monumental, atau bisa saja disebut lengkap dari segala sisi, termasuk edukasi. Berdiri di atas lahan seluas 6 hektar, lokasi Hotel Tugu sendiri hanya berjarak sekitar 15 menit penyeberangan dari Kepulauan Gili. Menyusuri Hotel Tugu, para tamu akan disuguhi beberapa tipe akomodasi yang sarat akan nilai budaya yaitu Sang Hyang Nirvana atau Jagatnata Villa, Puri Dadap Merah, Sang Hyang Djiwo, Bhagavat Gita Oceanfront Suites, Aloon-Aloon Garden Villas, Swarga Villas, Kampong Lombok Bungalows serta Ampenan Bungalows.

Nama-nama akomodasi yang diimplementasikan dari bahasa Hindi atau Sansekerta tersebut merupakan wujud nyata inspirasi kompleks Kerajaan Majapahit. Mengagumi kebesaran Tuhan, membuai diri dalam elok rupa lukisan alam adalah sajian saat melabuh diri di vila Sang Hyang Nirvana. Memiliki luasan hingga 600m2, vila Sang Hyang Nirvana siap membuai nurani yang ingin bercengkerama bersama iklim tropis hangat khas Pulau Lombok. Sang Hyang sendiri dimaknai sebagai Tuhan atau Sang Pencipta, sementara Nirvana berarti surga. Dengan private pool berukuran luas menghadap langsung ke pantai, membuat Sang Hyang Nirvana Villa menjadi salah satu primadona pelesir Hotel Tugu di Lombok.


Imajinasi akan sebuah peristirahatan eksklusif bergaya etnik tercipta dengan anggun di vila Sang Hyang Djiwo. Dengan luasan yang juga mencapai 600m2, Sang Hyang Djiwo menawarkan imajinasi puri atau tempat tinggal anggota kerajaan di zaman Majapahit. Di bagian selasarnya, terdapat tugu-tugu candi yang mengapit antara bangunan utama dengan private pool sepanjang tujuh meter. Bentuk pembagian ruang ini sekilas mengingatkan pada struktur pemandian Tamansari di Yogyakarta yang juga digunakan sebagai pemandian raja-raja Mataram Islam dahulu kala. Pada bagian dalam vila, interiornya penuh dengan artefak-artefak budaya seperti ranjang kelambu, sofa jati ukir, dan beberapa ornamen unik lainnya.




Bicara mengenai kuliner, Hotel Tugu di Lombok memiliki beberapa kreasi masakan dengan penyajian yang avant garde. Salah satunya adalah Royal Tugudom Dining, dimana momen santap bersama dikemas dalam prosesi layaknya acara makan kerajaan di era Majapahit. Beberapa pelayan akan datang mengusung sebuah tandu dalam kostum tradisional, menyajikan satu demi satu sajian masakan selayaknya melayani seorang raja. Para tamu juga dapat merasakan sensasi santap bersama di alam terbuka dalam konsep Quixotic Dreams Dinner. Area makan ditempatkan di area tengah hotel dengan ikon tugu Dewa Wisnu yang menjulang hingga 10 meter dikelilingi patung dewa-dewi Hindu lainnya. Sajian Grand Rijsttafel merupakan salah satu ciri khas kuliner dari Hotel Tugu. Kekayaan rempah dan berbagai kreasi kuliner Indonesia dirayakan dalam jamuan makan bersama sebagai bagian dari warisan budaya Belanda di era kolonial berabad silam.


Membuat diri lunglai, pasrah dalam buai desir angin pesisir di Bale Kokok Pletok menjadi bagian tak terlupakan saat CASA Indonesia menghabiskan waktu menanti senja tiba. Alunan manis Mrs. Cold dari Kings of Convenience semakin membenam sukma pada pendar buih ombak di kejauhan, memaksa otak kiri untuk melupakan segala kesibukan kota metropolitan... Thank you, God.

Foto: dok. Hotel Tugu Lombok