"When you want something, the universe conspires in helping you to achieve it,” ujar penulis Paulo Coelho di karya terkenalnya The Alchemist. Saya pernah melihat foto Machu Picchu di internet, tanpa saya tahu itu apa, saya membatin saya harus ke sana. Akhirnya ini terwujud dengan cara yang saya tidak tahu, yaitu ketika saya dikirim tugas ke Argentina. Sudah berada di wilayah Amerika Latin, tunggu apa lagi?

Mengapa saya memaksakan diri harus ke Machu Picchu? Mungkin perta­nyaan ini bisa dijawab ketika Anda melihat foto-foto Machu Picchu; sebuah peradaban kuno di atas gunung. Pertama, bagaimana orang-orang zaman dahulu itu mendaki gunung tinggi yang terjal, pun mengingat kondisi alam dan keadaan yang sulit di masa itu? Kedua, bagaimana cara mereka memotong dan membawa batu-batu itu hingga mendirikan sebuah kota luas di atas gunung? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian tidak akan berhenti dan justru berakhir dengan decak kagum. Pun dari awal perjalanan menuju sana.

A Long Journey




Beruntung saya ditemani Eena, sahabat dari Malaysia yang mau jadi traveling buddy saya. Sementara saya sibuk mempersiapkan ketahanan fisik dengan rutin berlari selama seminggu di Indonesia, Eena lebih peduli kepada kenyamanan kami. Eena melakukan semua booking melalui internet, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, tiket kereta api, hingga tiket masuk Machu Picchu. Selain relatif lebih murah, tiket kereta api dan tiket masuk situs Machu Picchu terkadang dibatasi dan sudah penuh, jadi Anda harus memastikan kedatangan Anda ke sana tidak sia-sia.

Saya pikir, karena saya berada di Amerika Latin, semua akan menjadi lebih mudah ke Machu Picchu. Ternyata saya salah. Dari Argentina pun masih harus naik pesawat ke Santiago, Chile, lalu dilanjutkan ke Lima, Peru, dan pesawat kecil ke Cusco, Peru. Jadi kalau Anda dari Indonesia, mestinya Anda bisa langsung ke Lima lewat jalur yang Anda pilih.


Sebenarnya Anda bisa mengesksplor Cusco, karena konon baru saja ditemukan situs peradapan kuno Peruvian di sana, tapi saya memilih untuk terus ke Ollantaytambo, kota selanjutnya, dengan menyewa sebuah mobil dan supir. Perjalanan menuju Ollantaytambo membuat saya melongo, bak menonton langsung acara yang biasa ditonton di channel National Geographic. Bayangkan mata saya dimanjakan dengan kehidupan tradisional Peruvian. Ada ibu ke pasar dengan menggendong anaknya di belakang dengan kain tradisional mereka. Yang menarik, semua orang mengenakan topi, yang ini peninggalan gaya Spanyol yang cocok diadaptasi ke kehidupan sehari-hari. Sampai kemudian mata saya menangkap gambar semacam kepala suku Inca di perbukitan. Ya, terukir begitu saja di atas pegunungan dengan ukuran besar. Seakan-akan bukit itu adalah canvas. Entah bagaimana mereka membuatnya!

Kenapa saya memilih Ollantaytambo juga karena konon benteng Machu Picchu dimulai di kota ini, juga tempat kaum bangsawan Inca menyimpan persediaan makanan dan biji-bijian mereka. Saya dan Eena menangis tersedu-sedu ketika kami melihat benteng Ollantaytambo secara jelas dari jendela penginapan kami! Sungguh beruntung! Bukan itu saja, kami juga mencium wangi aroma Lavender, di mana kebunnya tak jauh dari situ. Kami seperti orang kalap segera menuju Ollantaytambo. Batu berundak kami lewati yang konon dulu merupakan semacam terrace­sering dan sistem irigasi untuk pedesaan di lembah Urubambu. kemudian terdapat beberapa ruangan pengintai di daerah Barat, yang disebut Choquequilla. Konon raja Inca mengintip apakah ada musuh yang lewat dari situ. Tampak juga gudang-gudang penyimpanan makanan terletak di atas perbukitan.  

Meeting Machu Picchu

Sebagus-bagusnya Ollantaytambo, tujuan utama saya tetap Machu Picchu. Sebelum ke sana, saya berusaha ‘mengenal’ Machu Picchu dengan membaca brosur yang tersedia di airport Cusco. Dalam bahasa Quechua, Machu berarti tua dan Picchu berarti pegunung­an. Terletak di 118 kilometer Timur Laut kota Cusco, di ketinggian 2400 meter dari sungai Urubamba, di pegunungan Vilcanota, Peru. Kota kuno ini luasnya 32,592 hektar! Dibangun suku Pachacuteq Inca, konon kota ini dibangun atas inisiatif raja Inca dengan tujuan menghindari dari serangan musuh, terutama suku Amazon, karena letaknya yang tersem­bunyi dan sulit dijangkau.



 Disebut-sebut sebagai The Lost City, karena sempat tertutup pepohonan beratus-ratus tahun. Belum diketahui secara pasti mengapa Machu Picchu di­tinggalkan oleh para penghuninya. Salah satu spekulasi adalah karena datangnya bangsa Spanyol dengan senjata modern yang berniat menjajah seluruh wilayah Amerika Selatan. Machu Picchu diketemukan kembali oleh sejarawan Amerika Hiram Hingham, 24 Juli 1911 ketika ia menjelajah berama seorang petani dari wilayah Cusco bernama Melchor Arteaga. Sejak 1983, Machu Piccu ditetapkan sebagai salah satu situs kuno yang dilindungi oleh UNESCO dan juga terpilih sebagai wonders of the world.

Penjaga penginapan mengatakan pada saya sebaiknya datang pagi-pagi karena mereka membatasi jumlah pengunjung dan waktu berkunjung. Tidak ada alasan untuk tidak percaya bukan? Ada beberapa cara menuju sana dari Ollantaytambo. Ada rombongan minimal empat hari hiking, bak para Inca zaman dahulu, melalui jalur setapak pegunungan yang mereka lalui seraya mengenal flora dan fauna di perbukitan. Saya dan Eena memilih jalur pintas. Ini berarti kami akan naik kereta api, yang terpagi pukul 5 pagi, karena situs Machu Picchu tutup jam 6 sore untuk keamanan. Kalau mau eksplor lebih harus bolak-balik.


Kereta api Inca Rail tidak serta merta membawa saya ke Machu Picchu. Pemberhentian terakhir adalah Aguas Calientes. Dari situ disambung tiket bus pergi-pulang bisa dibeli di Aguas Calientes. Para supir bus ini khusus dilatih untuk menguasai medan pegunungan yang terjal dan curam, jadi tidak ada lagi transportasi lain yang diperbolehkan selain yang resmi ini. Beberapa orang di bus muntah-muntah karena ketinggian yang mendadak. Kami di­i­ngat­kan akan aklimatisasi. Karena ‘potong kompas’ jalur cepat ini, tubuh akan kaget. Untungnya saya sudah menginap semalam di Ollantaytambo, karena paling tidak sudah 24 jam adaptasi ketinggian. Kurang lebih satu jam mengen­darai bus inilah akhirnya saya tiba di Machu Picchu!


Teks dan foto: Fira Basuki