Tren arsitektur dengan memanfaatkan ruang terbuka terus mengalami inovasi yang mengundang decak kagum para penikmat desain. Indonesia yang terpapar pada garis Khatulistiwa memiliki kekayaan alam tropis pada juntaian pulau dari Sabang hingga Merauke. Fenomena inilah yang terus digali para arsitek untuk menuangkan ide-ide kreatif saat merancang ruang spasial beriklim tropis. Lupakan sejenak Pulau Dewata yang sudah terlalu mainstream saat menyinggung arsitektur lansekap. Dari adopsi budaya pribumi yang disilangkan dengan bermacam gaya arsitektural Barat hingga Oriental, kontan membuat Pulau Bali seolah menjadi acuan bagi perkembangan arsitektur Indonesia.

Bergeser ke Indonesia bagian barat, tepatnya di kawasan wisata Puncak, Jawa Barat, padanan aksentuasi nirwana menyemai indah. Amaryllis Boutique Resort merupakan sebuah function hall sekaligus resor yang dibangun dari ragam inspirasi. Berjarak kurang lebih 40 kilometer dari Jakarta, bangunan ini bagaikan bulir mutiara yang menyimpan sejuta pesona. Pemanfaatan lansekap bagi ruang terbuka di perbukitan ini dirancang oleh arsitek Tonny Tarmadi dengan menguatkan sinergi desain atraktif antara alam dengan hakekat kehidupan manusia. Amaryllis Boutique Resort merupakan ruang bagi siapa saja yang ingin membuat sebuah selebrasi penuh keintiman.





Jaraknya yang cukup dekat dengan ibukota menjadi daya pikat bagi para tamu yang ingin mencicipi sejumput eksotisme bumi Sangkuriang. Memasuki jalan berbukit, pengunjung disambut dengan kegagahan fasad bangunan ruang serba guna. Glass house ini memiliki center piece berupa permainan garis-garis besi berwarna putih beratap kaca membentuk siluet haluan kapal. Bangunan ruang serba guna terlihat cukup kontras berada di antara permadani alam serta kontur berundak yang menimbulkan efek dimensi unik dengan latar perbukitan.

Berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektar, Amaryllis Boutique Resort menawarkan sentuhan eksklusif justru dari kesahajaan desain eksterior, interior, hingga material dalam sebuah keselarasan. Menyibak area resor, pengunjung akan dimanjakan dengan paras ruang yang hangat. Area lobby berdiri di bawah naungan atap tumpang dengan ceiling rapatan kayu pipih yang menimbulkan aksen rumbai. Pada area selasar, tampak material kayu yang sengaja dibuat raw untuk menguatkan sentuhan alami di dalamnya. Potongan balok-balok kayu kokoh menjadi tiang penyangga begitu pula dengan furnitur seperti kursi dan meja hingga menimbulkan nuansa rustic yang cukup kental.




Dining area dibuat dengan ceiling tinggi guna memaksimalkan sirkulasi udara sejuk yang berhembus khas dataran tinggi. Petak-petak kolam yang mengelilingi area restoran kian menambah keelokan aristekturnya. Implementasi penyatuan manusia dengan alam semakin nyata pada area privat yang disediakan bagi para tamu. Interior ruang penginapan dirancang dengan ukuran cukup luas berpagar jendela-jendela besar untuk memanjakan mata pada hijaunya alam sekitar. Begitu pula dengan beberapa fasilitas seperti spa yang hadir dengan palet warna pastel untuk membuai para tamu saat menyelami relaksasi. Because nature's peace will flow into you as sunshine flows into trees... 


Fotografi oleh Sjaiful Boen dan Yopie Kosasih

Arsitektur oleh Tonny Tarmady, TnT Architect

Arsitektur lansekap oleh San San