Menurut CASA Indonesia, Lea Aziz adalah salah satu dari sembilan arsitek dan desainer interior lokal yang sukses di luar negeri. Ia telah menyaksikan perjalanan industri desain lokal dan mengelutinya selama tiga dekade, termasuk desain bandara di Indonesia. Seperti apa sejarah perjalanan dan aktivitas terbaru dari seorang Lea Aziz?







Menuntut ilmu di San Francisco dan bekerja di Kanada dan Los Angeles tidak membuat Lea Aviliani Aziz lupa dengan tanah kelahirannya. Kemajuan desain interior di Indonesia menjadi highlight dalam hidupnya.




Indonesia adalah negara berkembang dengan segala potensi yang ia anggap perlu disuarakan lebih giat lagi, infrastruktur dan pola pikir generasi muda misalnya. Keinginan untuk berjuang dari generasi Y ini seperti terhalang oleh derasnya teknologi internet dan nyamannya hidup di dunia modern saat ini.




Menurut wanita lulusan Interior Arsitektur di Academy of Art College University, San Francisco ini, generasi muda perlu keluar dari zona aman mereka. Mereka juga perlu memfokuskan diri di satu atau dua bidang desain interior, lighting atau floor plan misalnya, agar lebih banyak lagi desainer yang berkualitas di Indonesia. Bukan hanya sekadar memelajari permukaannya saja, tapi lebih detail lagi.




Selain bergerak sebagai desainer interior, Lea juga sering berbagi ilmu mengenai industri ini melalui seminar (sebagai pembicara), kompetisi desain (sebagai juri), dan universitas (sebagai dosen). Selama dua tahun belakangan ini, Lea rutin berperan sebagai juri CASA Design Challenge by CASA Indonesia Exhibition.





Melalui organisasi Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) yang ia ketuai sekarang, mahasiswa dari sekolah desain diajak berkarya di kompetisi internasional dan hampir semuanya membawa pulang piala di koper mereka.






“Saya ingin berjuang untuk generasi muda agar profesi sebagai seorang desainer bukan lagi menjadi hal tidak pasti dan dianggap sebelah mata.” Dari kompetisi per kompetisi, proyek per proyek, bisa dilihat bahwa memang Indonesia itu sanggup bersaing tapi belum merata.





Bicara tentang “sebelah mata”, Lea mengakui dulu masyarakat atau pun pemerintah masih kurang menanggapi serius tentang profesi ini. Namun dengan bangga ia menyampaikan bahwa posisi para desainer interior sekarang sudah diakui, hingga sampai terpilih menjadi staff ahli di proyek-proyek MRT atau pun bandara.




Butuh waktu untuk mengangkat kesadaran masyarakat tentang profesi ini. Salah satu titik yang Lea anggap berkesan adalah saat ia jadi pembicara di Angkasa Pura pada tahun 2012. Melalui presentasinya, masyakarat akhirnya tahu bahwa kontribusi desainer interior di sebuah proyek besar sangat banyak dan mendetail, bandara salah satunya.




Lewat franchise acara Asia Pacific Space Designers Association (APSDA) dan International Federation of Interior (IFI), menyebarluaskan topik interior ke masyakarat menjadi lebih mudah.




Dengan karir yang baik, kini Lea diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai VP Asia Pacific Space Designers Association (APSDA) 2017-2019. Melanjutkan prestasinya sebagai desainer interior yang meneruskan projek T3 Ultmate, kini proyek revitalisasi Terminal 2 di Soetta serta beberapa kantor Angkasa Pura Solusi pun kini dalam proses perancangan.



“Jika ingin menjadi desainer yang hebat untuk area publik, kita harus bangga menjadi orang Indonesia dan jadilah orang yang berbudaya Indonesia.”


Foto oleh CASA Indonesia, Lea Aziz, Academy of Art University